HAK ATAS WAKTU

Mega jingga di angkasa senja

HAK ATAS WAKTU

Pilihan baik itu dua, sabar atau syukur.

Tahun-tahun belakangan kita mengalami hal-hal yang tak terbayangkan, banyak hal baru bermunculan dan membatalkan teori yang berlaku umum sejak bergenerasi lalu telah hidup. Betapa hari ini menjadi sangat dinamis, sehebat apapun persiapan yang dilakukan, ada kalanya situasi berubah secara tiba-tiba. Dibutuhkan kecerdasan untuk menghadapi perubahan yang mendadak, bersamaan dibutuhkan keahlian yang mampu mengatasinya, kehidupan bersamaan dengan kematian.

Wahai Abu ceritakan tentang tsunami?

Tiga orang pemuda datang kepada Abu menanyakan kisah tsunami. Perasaaan kejadian itu baru terjadi kemarin, tapi kejadian itu terjadi tahun 2004 Facebook belum lahir, apalagi Intagram atau yang terbaru tiktok. Yahoo masih dominan, Youtube masih embrio. Konflik Aceh berdetak kencang. Perang adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup Abu. Merasakan penghinaan demi penghinaan sebagai orang sipil di tengah perang itu menyakitkan.

Konflik Aceh 1999-2004. Perang adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup.

Abu memandangi tiga pemuda itu, tahun ini (2020) akan masuk SMA, usia anak-anak yang akan masuk SMA tahun ini bahkan lebih muda dari pada motor Abu (Suzuki Shogun 125 tahun produksi 2005). 4 atau 5 tahun lagi mereka (mungkin) menjadi kritis, progresif dan membawa pikiran-pikiran baru yang tak dipikirkan oleh generasi Abu, kami yang  mungkin akan segera menjadi debu, itulah hak atas waktu.

Karena itulah Abu bercerita sedikit tentang kejadian Tsunami itu, sebagaimana kita tahu kejadian itu dicatat oleh sejarah, terdokumentasi dengan lumayan baik di media maupun digital. Abu bercerita sebagai penyintas yang membawa perasaan, pikiran (kenangan) yang tidak mungkin dirasakan oleh yang tidak mengalami.

Mendengar cerita Abu mereka tersenyum bahagia, senang kemudian pulang untuk kembali beraktivitas dengan android-nya. Aku terdiam, merenungi rintik-tintik hujan yang mengguyur Banda Aceh Mei 2020 (Ramadhan 1441 H) ini. Sebagai manusia yang lebih dahulu hidup dibanding mereka yang muda sudah seharusnya kita bercerita, usia mereka bukanlah minta nasehat, mereka sudah kenyang dengan nasehat dan motivasi.

Sejatinya mereka akan selalu menghadapi hal yang baru sebagaimana kita juga dalam hidup. Seperti COVID 19 atau Virus Corona adalah sesuatu yang tidak pernah kita jumpai atau rasakan sebelumnya. Ketika gerbang-gerbang perbatasan ditutup dan kontak fisik dibatasi, ternyata internet (bisa) menjadi solusi. Kerja dari rumah kini bukan lagi wacana. Selepas COVID 19, manusia tidak akan menjadi sama lagi dengan keadaan sebelumnya.

Manusia akil baliq perlu diajak berpikir tentang siapa mereka, dan keadaan masa lalu. Jika tidak mereka akan diinjeksi oleh pemikiran baru yang dibawa oleh penguasa zaman ini. Ketika generasi sebelumnya abai, pernah terjadi dalam sejarah negeri ini (dulu), sehingga tak mengherankan ada banyak orang dulu beralih ke agama kaum penjajah. Berpuluh-puluh tahun sebelum Abu lahir.

Generasi muda yang hidup hari ini dibanjiri oleh beragam informasi yang tidak terverifikasi. Dahulu ketika Abu berumur belasan tahun untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu harus ke perpustakaan atau menjumpai seorang ahli. Sekarang tinggal klik google akan mencarikan, ada yang benar tapi banyak pula yang salah. Media sosial dipenuhi iklan tentang pemikiran-pemikiran baru yang sayangnya banyak merusak, menggiring dan memecah belah. Ada kebaikan di dalamnya sebagaimana keburukan juga. Biarlah, itulah pertanda zaman ini, hak atas waktu (yang ini). Manusia-manusia (muda) ini juga bukan lembu yang mudah digiring ke kandang oleh gembala. Selayaknya mereka merdeka, sebagaimana sebaik-baiknya manusia.

Beberapa ekor lembu pulang dituntun oleh sang gembala.

Waktu berjalan perlahan dalam lintasan yang lurus, pasti dan terukur. Bersama itu ada catatan yang telah tertulis, ingatan yang membawa kenangan atas kebenaran dan kesalahan yang telah terjadi.

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu atas segala keburukan yang (pernah) aku perbuat.

XXX

Simak cerita lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.