LANSKAP MASA DEPAN

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa.

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa.

Kain jendela masih bergoyang

Dan gubuk tua ini

Seakan menjadi saksi

Waktu yang berjalan

Senja datang membara

Tapi tidak membelah

Mungkinkah malam membawa damai

Aku masih disini menanti dan terus menanti

Banda Aceh, 16 Juni 2001

XXX

Hidup bukan putaran roulette. Setiap keputusan kita punya arti. Ketika kita membuat keputusan, disitulah kita mengubah dunia. Tiap tahun adalah ruang terbuka, kita akan mengisinya, dan kelak, mempertanggungjawabkan segala laku kita.

Suatu sore tahun 2001, diliputi rasa cemas karena tak mampu memperkirakan masa depan dengan agak akurat, karena ia bukan ilmu pasti. Abu sebagaimana orang yang kesulitan memahami trigonometri dan segala turunannya (Logaritma, Integral, diffrensial), serta membenci bedebah kembar bernama persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat. Aritmatika saja sulit dipahami apalagi yang tak pasti yaitu bagaimana besok? Tapi Tuhan sore itu tersenyum, Abu mencorat-coret buku latihan matematika dan lahirlah sebuah puisi (diatas).

Akh, betapa waktu itu betapa mudahnya Abu membuat puisi, bahkan sempat diterbitkan sekitar lima puisi oleh koran lokal. Syukurlah di tahun 2007 Abu sempat mengetik kembali puisi-puisi zaman itu pada laptop Acer Aspire yang (baru) dibeli. Ketika millennium baru datang, Abu (seperti) kehilangan kemampuan membuat hal-hal sederhana menjadi syair lagi, sangat disayangkan oleh Abu sendiri. Puisi bagaimanapun adalah sarana melembutkan hati.

Tahun 2001 adalah tahun yang tidak jelas arahnya kemana. Terutama warga sipil yang tinggal di Aceh. Saat itu, dalam perang, kami selaku sipil (harus) memperlihatkan keberanian untuk menanggung penderitaan lebih berat daripada pihak-pihak yang bertikai langsung. Berjuang dan berusaha bertahan hidup, orang-orang yang mengalami trauma, kehilangan dan berduka, terjepit di antara dua kekuatan yang saling membenci. Masa-masa itu, ketika berada di jalan dan pasar ramai, Abu (sebagai pelajar) tak akan banyak tahu, siapa yang meninggal dan siapa yang masih hidup sampai besok.

Perang tidak (pernah) terlalu buruk bagi pemerintah, karena mereka tidak terluka atau terbunuh seperti orang biasa. Sinis? Memang ini sebuah konsep sejarah yang rumit, manusia saling terhubung, cerita orang yang diseret dengan motor di malam hari, meraung-raung minta ampun. Atau mayat di lemparkan dijalan, seperti kotoran, setelah dimutilasi untuk ditemukan pelajar ketika hendak ke sekolah besoknya. Bagi orang yang tak mendapatkan pelatihan militer, atau tak ingin menjadi tentara kejadian seperti itu membuat otak menjadi syok, mengunci trauma di tempat yang memproses emosi, dan itu tidak baik bagi siapapun.

Abu sedang tak ingin menceritakan kisah tragis yang menggugah, apa lagi membuat merenung. Pada suatu sore kami kami sekumpulan pemuda kampung bermain di lapangan sepakbola, tiba-tiba terdengar rentetan senjata, tembak menembak. Teet..Teet..Teet suara senapan AK 47 milik GAM bersambut Tuum..Tuum..Tuum suara magazine M16 milik TNI. Di lapangan itu, kami semua kaku, mendingin, timah-timah panas bisa saja menembus tubuh kami, sungguh kami pernah menyaksikan betapa rapuhnya tubuh manusia jika diterjang peluru. Satu kawan Abu terkencing di celana, tiada yang tertawa akibat suasana mencekam. Sempat Abu pikir, disitulah ajal akan menjemput. Kami semua pasrah.

Tiba-tiba seorang kawan Abu yang lain, seorang dengan kemampuan bahasa Indonesia sangat terbatas menjerit keras. “Teman-teman semua jangan bodoh, meratap semuanya!” Serentak kami (semua) tiarap di tanah. Setengah jam kemudian kontak senjata mereda, kami bergegas pulang ke rumah tapi dengan suasana ceria. Banyolan macam apa ini? Ketika seseorang tak tahu perbedaan kata antara meratap dan tiarap. Tapi disitulah kami semua memahami bahwa hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang dinamakan manusia. Kelak di kemudian hari lapangan tempat kami bermain itu dijadikan perumahan. Anehnya, nama jalannya tetap bernama jalan lapangan.

Sebuah sore di tahun 2019. Abu berjogging sepulang kantor, melewati lapangan itu. Abu terdiam, teringat dan mengenang, bukan hendak menegakkan kembali masa lampau, kami pernah hanya bermain, menjalankan ritus. Lanskap sebuah lapangan yang hidup dan hiruk, bahkan semasa perang. Saat-saat itu bukan secuil suatu zaman, atau mungkin sebuah periode, saat itu sejarah luruh. Mungkin itulah yang membuat Abu mencintai sepakbola, ketika buramnya keadaan tak membuat gelak tawa hilang dari wajah-wajah belia kami, itu semua karena sepakbola.

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa. Abu melihat pemandangan disebelah rumah Abu, dari lantai dua, belum berubah dari tiga puluh tahun yang lalu. Seberapakah tangguh ia menghadapi masa depan?

Disitulah Abu menyambut kesendirian, kedamaian yang dialami sekarang. Ketidakhadiran suara-suara, termasuk suara sendiri. Hanya burung-burung pulang menuju Barat. Semua menjadi alunan nina bobo yang selama sementara (bisa) menghapus rasa takut menghadapi masa depan.

Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pengunungan bukit barisan. Matahari masih bersinar di langit, tapi ada bayang-bayang panjang yang menjulur, puing-puing kelabu mulai jatuh dalam kegelapan. Yah, menghadapi masa depan, Abu (sebenarnya) takut. Lanskap masa depan yang (sungguh) berkabut. Azan Maghrib belum juga datang, Abu merasa sangat sendirian.

Baca juga :KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.