MENJELANG PARUH BAYA

Kelas 2-8 Smuntig Banda Aceh tahun 2001 di Pantai Babah Dua Lampuuk

Kelas 2-8 Smuntig Banda Aceh tahun 2001 di Pantai Babah Dua Lampuuk.

MENJELANG PARUH BAYA

Berapa usia manusia sudah hidup di muka bumi ini? Katakanlah sudah 10.000 tahun, dalam rangka waktu tersebut belumlah ada tulang jenis baru tumbuh pada badan manusia. Begitu juga kodrat dasar manusia secara umum selalu sama; Dilahirkan, lelah dan kemudian meninggal. Sebuah tema lama, tentu dengan berbagai variasi baru. Selalu berulang.

(Baca: Pengulangan Sejarah)

Beberapa tahun lagi dari sekarang Abu akan memasuki usia 40, usia paruh baya sebuah tahapan yang harus dilalui sebelum menjadi tua. Berat badan tak lagi ramping, meski berusaha untuk tetap berolahraga akan tetapi jarum timbangan (tetap) menuju ke kanan. Pada sisi lain pekerjaan semakin hari semakin menyita waktu, jarang ada waktu luang untuk berpikir secara filosofis. Melukis, berpuisi telah lama terhenti.

Pada sisi lain buku-buku di perpustakaan semakin hari semakin bertambah, kemampuan dan waktu membaca semakin menurun. Padahal masa muda belum begitu jauh, semangat yang menyala belum padam seutuhnya. Lalu Abu menyadari telah menjelang paruh baya.

Betapa membosankan percakapan orang-orang (menjelang) paruh baya. Ada yang membikin tegang seperti kemungkinan penyakit yang timbul pada usia segitu, membicarakan kenalan yang sakit atau meninggal. Ketika para bapak-bapak berkumpul bersama pada umumnya Abu mengantuk mendengarkan percakapan mereka. Akh, tidak menyenangkan lagi pembicaraan ini.

Mungkin Abu yang telah jauh berubah atau orang-orang yang berubah. Tiada lagi omong kosong yang mengasyikkan yang dalam keadaan sulit memberikan harapan yang menyenangkan. Pada akhirnya hanya membicarakan ekonomi mikro sebuah ilmu yang muram.

Ketika humor garing khas bapak-bapak dilontarkan, Abu tertawa sekaligus bersedih, mengantuk tapi tetap ingin terjaga. Akh, mungkin memang dunia seperti itu adanya. Perasaan rindu yang kerap hadir ketika mengenang masa kecil. Ada banyak perasaan senang dan tawanya, sekaligus sedih. Sayangnya mengingat adalah menafsirkan masa lalu, sudah tentu kita tak akan bisa (lagi) kembali ke masa lalu untuk mencocokkan tafsir kita dengan masa lalu itu sendiri.

(Baca: Makna Nostagia)

Teman-teman dulu, sewaktu kecil sekarang menjadi berbagai macam orang. Ada yang luar biasa, sukses makmur dan bahagia, ada juga yang kesusahan. Ada yang sehat, awet muda dan ada pula yang kegemukan, sakit-sakitan. Ada pula yang telah pergi selamanya. Karena berbagai penyebab bisa timbul. Hidup bisa sangat rapuh dan waktu betapa singkatnya.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.