BERBAGI INGATAN

Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana.

Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana.

Berbagi Ingat.

Sebuah kenangan bisa menjadi surga yang tak ingin kita tinggalkan, tetapi ia juga mungkin neraka yang tak mampu kita hindari. Kenangan, ingatan masa lalu bisa jadi tak sama persis dengan keadaan yang sebenarnya. Tapi sesungguhnya memang begitulah wujud kenangan, yang sebenarnya adalah penafsiran seorang manusia tentang apa yang dia alami.

Tiga puluh lima tahun hidup Abu adalah waktu yang panjang, tiba-tiba Abu tersentak ketika istri Abu bertanya, “dari mana abang mendapatkan rasa percaya diri yang sangat besar seperti ini?”

Ketika itu Abu menjawab santai, “istriku, hidup ini adalah seumpama sebuah filem dimana kita masing-masing adalah pemeran utama dari pertunjukan ini.”

“Tapi ada orang yang hidupnya berhasil, ada yang gagal, ada yang biasa-biasa saja, tentunya bukanlah sebuah filem.” Bantah istri Abu.

“Sayangku, skenarionya telah disusun oleh Allah S.W.T di Lauhul Mahfudz tentunya, tapi kita sebagai pemain (aktor) bisa mengarahkan kecenderungan filem ini kearah mana, apakah romantis, drama, komedi, action sampai dokumenter sekalipun!” Kata Abu sambil tertawa.

“Jika hidup kita adalah pilem, abang memilih yang bagaimana?” Tanyanya.

“Komedi sayangku, yang terbaik adalah komedi.” Kata Abu.

“Pantas abang lucu, dan gemesin.” Ia tertawa.

“Absolutely honey!” Abu mengkedipkan mata, kami terbahak bersama.

Jika hidup adalah sebuah filem yang bisa diputar-putar kembali, adakah kita mampu mengingat semua kejadian? Mungkin tidak, memori kita terbatas.

XXX

Ini adalah kisah sewaktu Abu berusia 15 tahun, masih kecil (tentunya), dan belum memiliki pengalaman sebagaimana hari ini, bisa jadi sebenarnya hanya umur Abu yang bertambah, dan sedikit lebih berpengalaman, tapi sebenarnya (mungkin) Abu masih merupakan anak kecil itu yang serba tak berdaya mengelola kata, laku dan sikap dalam berhadapan dengan orang lain.

Seorang teman SMA (20 tahun yang lalu) baru-baru ini berkata, “dulu ketika minggu-minggu awal masuk SMA aku sangat benci dengan kamu!” Kening Abu berkerut dan bertanya mengapa. “Karena kamu berkata pada teman-teman yang berasal satu SMP denganmu, bahwa di kelas kamu orangnya jelek-jelek, dan aku yang paling jelek.”

“Apa betul?” Abu melihat wajahnya dan coba mengingat lagi, tapi memang kejadian itu tak tercatat di otak Abu.

“Betul, aku masih mengingat jelas! Ketika itu aku baru kembali dari kantin. Aku benci kamu, dan kawan-kawanmu itu.” Wajah kawan Abu itu sangat serius, dia bukan tipe yang pembohong, sangat jujur malah, itulah sebabnya Abu sangat suka berteman dengannya. Jadi Abu yakin itu adalah kejadian sebenarnya.

Abu melihat dia, gurat-gurat kekesalan yang telah terpendam selama 20 tahun ini membuncah keluar, rasa simpati mengalir deras dalam batin lalu Abu berkata, “Aku mohon maaf atas segala perkataan yang pernah aku ucapkan di masa itu, sungguh apa yang aku katakan pada saat itu tidak sepantasnya keluar dariku apapun sebabnya.” Abu menyesali. Terima kasih sahabat telah mengingatkan.

Ia memalingkan muka, lalu berkata, “akh, sudahlah lagian saat itu kamu masih berusia 15 tahun. Masih labil!” Ia pun tersenyum. Dan memang selama 20 tahun setelah kejadian hari itu kami bersahabat baik, mungkin tidak setiap saat kami saling mengkabari satu sama lain. Tapi setidaknya kami saling memahami masalah masing-masing, dan ketika dimintai pendapat kami berusaha saling memberikan saran-saran yang dirasa paling bijak.

Ternyata ingatan, memori yang tersimpan di dalam otak tak mampu merekam semua kejadian, semua peristiwa atau bahkan kesalahan yang pernah dibuat. Meski itu terkadang menyinggung, melecehkan atau menghinakan orang lain. Di situ Abu sadar bahwa kurun waktu yang telah beranjak sekian tahun lamanya tak pelak mungkin telah menyakiti orang lain, baik sengaja atau pun tidak.

Tapi juga ingatan bisa menjadi kuat, mencengkram dan tak akan hilang akan hal-hal dianggap penting oleh otak, seperti hal-hal yang membuat kita tersakiti, terluka. Aku menyambungkan dengan kata-kata Ibu kepada Abu, “sebenarnya kamu itu pelupa, terutama terhadap kesalahan sendiri. Tapi entah mengapa segala kekurangan, kesalahan orang kamu ingat.” Ada-ada saja.

XXX

Sepuluh tahun lalu, Abu berpikir kehidupan itu paradoks, penuh dengan pertentangan antara teori dan praktek. Waktu berjalan, pemikiran Abu bergeser sekarang. Hidup itu anomali, tidak ada teori yang berjalan secara penuh dalam hidup, semua ada pengecualiannya. Sebastiano Rossi dengan gampang menghabiskan berliter-liter bensin serta dibayar menggunakannya. Sementara saudara-saudara kita di pedalaman Papua sana harus membayar beratus-ratus ribu rupiah untuk bensin. Solusinya apa? Jalani saja jangan terlalu kecewa, terutama jika kena musibah, belum tentu itu azab Tuhan bisa jadi ada yang indah menunggu disana.

Seperti tsunami yang menghancurkan dan merenggut 200.000 jiwa itu memang menyedihkan, tapi perang RI-GAM yang telah berlangsung di Aceh selama nyaris 30 tahun berakhir, kedukaan tidak selamanya buruk, dalam kesedihan kata sepakat lebih mudah terjadi sehingga damai pun hadir.

XXX

Dua puluh tahun lalu, masih kelas 1 SMA, Abu ditunjuk oleh mewakili kampung untuk mengikuti lomba baca puisi tingkat kecamatan. Pemilihannya cukup unik, Abu ditemukan oleh tim pencari bakat di TPA (Tempat Pengajian Al-Qur’an) Surau Dusun kami, Abu dipilih karena memiliki pelafalan bahasa Indonesia paling baik. Suara Abu dianggap jelas, tegas dan mampu memisahkan antara kata-kata berbahasa Aceh dan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. begitu menurut pengakuan anggota tim pencari bakat bertahun kemudian kepada Abu, tapi menurut Abu saat itu, semua karena keberanian Abu berbicara di muka umum.

Biasanya kampung kami tidak serius kalau mengikuti lomba apapun, setiap pelatihan dalam lomba-lomba tingkat kecamatan baik itu Azan, MTQ selalu dalam keadaan bercanda, senda gurau yang diperbanyak. Tapi hari itu kampung kami serius, Abu dilatih selama 2 minggu, dibelikan kostum. Sehabis mengaji Abu tak boleh pulang, terus dilatih oleh para Ustad dan Ustadzah. Mendekati hari H, Abu semakin mantap dan para mentor mengacungkan jempol. Kali ini kampung kita akan menang kata mereka, dan Abu pun sangat yakin dengan kemampuan diri sendiri. (Emang kapan Abu tak optimis?) Bahkan Abu merasa W.S Rendra dapat dikalahkan hari itu.

Pada saat perlombaan kampung kami mendapat urutan terakhir. Takdir seolah mendukung Abu, dengan begitu Abu dapat memantau para lawan. Mengukur kekuatan mereka, meniru teknik yang Abu anggap bagus dan tak lupa menciptakan beberapa inovasi dan taktik dalam membaca puisi. Ketika nama Abu dipanggil ke panggung, Abu sangat siap.

Tapi ternyata pada hari itu PLN telah menggagalkan Abu. Ketika microphone sudah Abu pegang, matilah lampu itu! Bedebah! Abu tak mau kalah! Abu keraskan suara sekeras-kerasnya tapi suara Abu ternyata tak menjangkau para juri yang nun jauh disana, diantara hiruk pikuk penonton se-kecamatan suara Abu tenggelam. Segala usaha Abu menjadi luruh. Tragisnya, ketika pengumuman pemenang dilakukan PLN menghidupkan listrik, suara gelegar pemenang dan sorak sorai kemenangan kampung lain sungguh menyakitkan bagi Abu hari itu.

Abu pulang dalam keadaan hancur, remuk redam. Pulang ke rumah Abu bercerita kepada ayah dan ibu serta adik-adik dengan perasaan dongkol. Ibu dan adik-adik sepakat pertandingan seharusnya diulang, tak selayaknya Abu dikalahkan dengan cara seperti ini. Abu cinta keluarga ini, selalu mendukung disaat terburuk, tersakiti dan terhancurkan harga diri.

Akan tetapi almarhum ayah berkata. “Nak, itulah nilai kehidupan, setiap ketidakadilan adalah bukti bahwa sebenarnya hidup ini sangat adil. Tak semua jerih payah kita langsung mendapatkan hasil, kita boleh merasakan sakit, kecewa ataupun sedih tapi jangan sampai trauma, teruslah mencoba.”

Mata Abu berkaca-kaca, sedih sekali rasanya dikalahkan. Ayah Abu berkata dalam bahasa Aceh. “Bagaimana pun dikeluarga kita, tetap abang juara satu membaca puisi kok.” Abu melihat ke kiri dan ke kanan, semua adik mengangguk-angguk seperti ayam makan beras dan saat itu Abu tertawa, bahagia sekali rasanya.

Kelak di kemudian hari, mungkin sampai hari ini, sering Abu mendapatkan atau mengusahakan sesuatu yang belum Abu tahu solusi atau jalan keluarnya, Abu terus mencoba sampai mampu mengatasinya. Abu sebut itu dalam sebuah teori acak kadut yang dinamai “The Power of Trying” Kekuatan dari mencoba, berusaha dulu hasil (pasti) menyusul kemudian. Lucunya, teori yang lahir dari pengalaman hidup, besar kemungkinan akibat kejadian hari itu, seringnya berhasil dalam hidup Abu.

XXX

Masih ditahun yang sama 6 bulan kemudian. Kali ini kampung kami mendapat undangan lomba berpidato antar desa, karena kesalahan administrasi suratnya baru tiba 2 hari sebelum lomba. Entah mungkin karena tidak ada pilihan lain, para Ustad dan Ustadzah lagi-lagi mengirimkan Abu sebagai perwakilan. Sebagaimana yang kalian tahu, Abu tidak pernah menolak panggilan tugas, untuk membela marwah kampung apapun Abu siap. Maka dua hari Abu bersepi-sepi diri menyiapkan konsep pidato, terus terang Abu tak terlalu siap.

Entah Maulid, entah Isra’ Mi’raj, detilnya Abu lupa momen lomba itu karena apa. Lomba dilakukan setelah shalat Ashar, tapi Abu memilih shalat Dhuhur di masjid tempat perlombaan dengan datang sendiri mengayuh sepeda sekitar 10 kilomater dari kampung Abu. Belajar dari kekalahan Abu di lomba baca puisi yang diakibatkan faktor alam (PLN itu alam?) maka Abu mendatangi lingkungan perlombaan jauh sebelum acara dimulai. Selesai Dhuhur Abu duduk di masjid tersebut mengenali lingkungan, memegang tiang-tiang masjidnya, memandangi kipas-kipas angin putih yang bertuliskan KKN Unsyiah 1991 sampai berbicara dengan microphone, “tolonglah sobat kali ini saja, saya mohon kamu jangan mati.” Masjid itu sendiri sudah ramai dengan panitia kampung tersebut, instuisi Abu berkata mereka geleng-geleng kepala di balik punggung Abu melihat kelakuan seorang anak muda yang mereka pikir mungkin sudah sawan.

Cuaca awalnya sangat panas, sekejap menjadi mendung, kemudian langit menjadi sangat hitam, dan akhirnya terjadilah sebuah hujan besar yang disertai angin kencang. Limpahan berton-ton kubik air seorang mencabik hari itu. Azan Ashar berkumandang dan shalat berjamaah dilakukan, waktu lomba pun sudah seharusnya di mulai. Akibat hujan lebat di hari itu, Abu merupakan satu-satunya peserta yang hadir. Abu sudah pasrah jika lomba diundur, yah berarti besok harus bersepeda lagi 10 Kilometer.

Tetapi ternyata panitia memutuskan lomba harus tetap dilaksanakan, karena pak camat akan hadir pada saat Maghrib nanti, maklum jadwal pembesar pastinya padat. Maka diperintahkan kepada Abu untuk naik podium, diberi waktu 15 menit untuk berpidato. Abu lupa isi detil pidato Abu hari tersebut, tapi masih ingat judulnya, “ISLAM DAN KEMAJUAN SAINS” yang Abu rangkum dari buku-buku warisan kakek yang ada dirumah. Alhamdulillah, hari itu PLN bersahabat dengan Abu, listriknya hidup meskipun hujan besar. Maka dengan segenap kepercayaan diri Abu berpidato, sangat lancar bahkan sampai lebih 15 menit.

Rupanya sementara Abu berpidato ada dua peserta yang hadir, mereka basah kuyup diterjang badai. Yang naik podium kedua seorang laki-laki, suaranya bergetar kedinginan diserai geraman menahan sejuk ia bersin-bersin, Abu merasa kasihan kepada lawan tersebut, ia tampak seperti ayam jago yang kebasahan, andai pertandingan lebih adil pikir Abu. Sedang yang naik podium ketiga seorang perempuan, jilbab dan bajunya basah. Ia mampu mengatasi kesejukan dengan tenang dan Abu merasa dia adalah lawan sebanding Abu, awalnya. Tapi ternyata suaranya sangat-sangat rendah volumenya, meskipun menggunakan microphone suaranya lebih menyerupai zikir dibandingkan pidato. Ia terlihat nervous sehingga mengakhiri pidato lebih awal dari waktu yang ditentukan. Abu merasa akan menang, tapi kemenangan macam ini bukanlah sesuatu yang Abu inginkan.

Menjelang Maghrib pak camat dan rombongan tiba menggunakan mobil Suzuki Carry, setelah shalat selesai dan pembukaan acara maka pengumuman juara dilaksanakan. Benar saja, Abu menjadi juara pertama, laki-laki basah menjadi juara dua dan perempuan suara kecil juara ketiga. Abu menyalami pesaing-pesaing tersebut, wajah mereka terlihat sangat bahagia, justru Abu yang terlihat kecewa. Abu suka kemenangan, tapi sebuah kemenangan dari sebuah perjuangan yang tangguh, bukan kemenangan yang dibantu oleh alam seperti ini. Selesai Isya, Abu pulang mengayuh sepeda, membawa piala dengan hati penuh kecamuk.

Sesampainya di rumah, Abu meletakkan piala di bufet TV, tanpa bicara langsung memilih tidur. Adik-adik Abu yang ingin mendengarkan cerita heroik kemenangan abang mereka pada pertandingan harus menunggu besok hari untuk mendengarkan cerita kekecewaan Abu terhadap kemenangan yang Abu rasa tidak adil itu. Abu tidak menganggap piala itu berarti dan membiarkannya terletak di atas bufet TV sampai suatu malam Abu sesak kencing dan bangun menuju kamar mandi, di depan TV Abu melihat almarhum ayah memandangi piala kemenangan Abu tersebut dengan penuh kebanggaan.

Foto Piala Lomba pidato tahun 1999

Foto Piala Lomba pidato tahun 1999

Suasana malam itu sangat hening, sekilas perasaan Abu ketika melihat sorot mata ayah seolah berbicara, “ANAKKU HEBAT.” Ini adalah momen yang tak ternilai, bila Abu mengingat kembali, tak ada sesuatu apapun di dunia yang ingin Abu miliki melebihi saat-saat, detik-detik itu. Kelak, 5 tahun kemudian ayah meninggal dunia, sebelum Abu menyelesaikan kuliah, sebelum Abu bekerja dan mampu memberikan sesuatu untuk beliau. Oh, betapa Abu sangat ingin sekali lagi melihat hari itu. Kenangan itu.

XXX

Kita semua manusia dibentuk oleh pengalaman. Sepahit, sesulit apapun pengalaman yang pernah kita punyai, yakinlah pasti itu akan menjadi pedoman hidup yang terbaik jika kita berbaik sangka kepada SANG PENCIPTA. Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana. Hidup itu mengalir saja, karena TUHAN selalu memberikan yang terbaik.

Simak cerita lain dalam: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.