SELAMAT SOBAT

Kau selalu menjadi orang pertama mengingatkan aku ketika berpikir tidak jernih.

SELAMAT SOBAT

Kita boleh memiliki kemampuan mati berkali-kali, kemudian hidup lagi. Kita boleh memiliki segunung emas yang tak akan habis dipakai selama tujuh generasi. Atau kita bisa muda selamanya, mengalahkan usia tetap abadi. Tapi itu semua tak akan punya arti, jika kita tidak memiliki sahabat.

Bertahun-tahun lalu, ketika aku belum menjadi aku yang sekarang. Tidak terlalu lama, mungkin aku masih sedikit lebih muda, lebih tolol dan lebih banyak melakukan kesalahan. Mungkin sejarah sudah melupakan, atau sudah tidak ada lagi orang yang betul-betul mengingat. Mungkin aku pun sudah tak mampu mengingat itu semua, tapi aku selalu ingat ada seorang sahabat yang menemani saat-saat itu.

Sahabatku adalah seseorang yang sangat baik, setiap kali aku melihat matanya berbinar-binar seperti anak kecil, aku merasa ia adalah (salah satu) pria terbaik. Di dalam mata seseorang ada pancaran cahaya yang tak terlihat, itu adalah pancaran jiwa.

Aku tersenyum, mengenang kita berbagi tawa dan kekonyolan. Menertawakan hidup, tak ada momen yang lebih menyenangkan.  Mengingat masa-masa dahulu, bahwa aku dan kamu pernah sangat muda. Kita bertahan hidup dengan berlandaskan mimpi yang sama, senyum polos dua anak muda yang selalu bersama bagai cermin, saling percaya.

Kau selalu menjadi orang pertama mengingatkan aku ketika berpikir tidak jernih. Terima kasih atas segala ketulusan dan kebaikan hati. Bersama kita menghadapi suka dan duka, menelan keberhasilan dan kegagalan sekaligus. Jika hidup adalah sebuah perjalanan, pada masanya kita pernah mendaki gunung yang terjal bersama.

Orang bilang, sahabat layaknya harta. Tapi bagiku, sahabat itu adalah harta yang melebihi harta. Harta dapat diwariskan dari seorang ayah kepada anaknya, akan tetapi persahabatan tidak. Aku berharap, kelak keturunan kita dapat bersahabat seperti halnya kita.

Sobat, ketika engkau menikah. Mataku berkaca-kaca ketika memelukmu. Bahagia, seperti ketika engkau juga berbahagia ketika aku menikah. Aku bersyukur ketika Allah SWT mempertemukan kita, tanpa ikatan darah, tanpa persamaan dalam sikap dan karakter, menjadi bersaudara. Dalam persahabatan.

Selamat menikah sobat. Ayunkan langkah pertama dan mulailah berjalan, selalu ada kemungkinan untuk meraih apa yang kau inginkan.

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s