DENDAM KEKUASAAN

Mainan Impian Hot Wheels Ultra Hot

Mainan Impian Hot Wheels Ultra Hot

DENDAM KEKUASAAN

Steve Harvey dalam satu kesempatan mengatakan bahwa: “People say that money changes people. It realy doesnt! You know what. I learned about money. Money don’t change people but money alloes you to be more of who you really are. If you’re a kind person when you get a lot money you become a kinder person. If you’re asshole when you get a lot of money you become a bigger asshole. Money allows you to amplify whoever you really are!”

Dia tidak percaya bahwa uang  akan  mengubah seseorang! Mungkin  ada orang  (terlihat) berubah ketika memiliki (banyak) uang, akan tetapi (sejatinya) dia tidak berubah sama sekali. Uang hanya membuat orang (tersebut) menemukan jati dirinya yang sejati. Hal-hal yang dulunya tidak mampu dia capai ketika tidak memiliki uang dilampiaskan saat (sudah) memilikinya. Kekuasaan memiliki narasi yang sama. Seorang jurnalis sekaligus politikus senior termasuk pendiri PDI Perjuangan, Panda Nababan memberikan terminologi yang cantik untuk fenomena ini, “dendam kekuasaan”. Salah satu tantangan dari ketika berkuasa adalah mampu menahan diri dari kecenderungan (hasrat) membalas atau bahkan menindas kepada orang-orang yang tidak dia sukai.

Meulaboh, suatu petang tahun 1988. Resah dan gelisah menunggu di sini, di sudut sekolah tempat yang kau janjikan ingin jumpa denganku walau mencuri waktu, berdusta pada guru. Malu aku malu pada semut merah, yang berbaris di dinding menatapku curiga seakan penuh tanya. Sedang apa di sini? Suara radio terdengar kencang dalam kedai alat-alat perkantoran, mungkin sang pemilik baru menganti baterai. Seingat Abu waktu itu berumur 4 tahun dan diajak ayah ke pasar untuk membeli barang. Ketika bersandar di etalase kaca di toko tersebut mata Abu tertuju pada sebuah mainan mobil, sebuah sedan terbuat dari besi dan pintu depannya terbuka. Tertikam dan kasmaran Abu mengingatkan mainan tersebut dan meminta kepada ayah. Beliau bertanya berapa harganya kepada pemilik toko. “Tujuh ribu!” Seingat Abu. Ayah menggelengkan kepala. Biasanya Abu menahan diri, tapi hari itu Abu benar-benar ingin mainan tersebut. Abu menjerit dan menangis sekeras-kerasnya sampai harus dilarikan pulang dengan vespa biru ayah langsung ke rumah.

Biasanya Abu lupa, tapi keeseokan harinya Abu meminta lagi, merengek setiap saat sampai pada tahap mungkin menjengkelkan. Untuk menenangkan hati Abu menawarkan sebuah mobil yang lain, sebuah mainan Toyota Kijang pickup dari plastik seharga Rp. 500,- dan Abu menolak keras! Sampai akhirnya ayah dan ibu mengalah dengan meminjam uang seorang teman kantor Abu pun dibelikan mainan tersebut.

YouTube adalah sebuah alat yang mengagumkan, sebuah kreasi manusia yang maha dahsyat. Tanpa sengaja Abu menonton sebuah video klip lawas, lagu kisah kasih di sekolah yang dinyanyikan oleh Obie Messakh. Awalnya Abu tertawa dengan gaya remaja tahun 1980-an yang ditampilkan. Betapa abang-kakak SMA di video tersebut terlihat sangat dewasa dibandingkan generasi hari ini. Apalagi adegan dimana Obie Messakh sedang menanti kekasihnya di toilet sekolah. Apakah dia tidak terlalu tua untuk berperan sebagai anak sekolah yang berumur 17-18 tahun? Tapi sejenak komedi tersebut menjadi sangat melankolis ketika fragmen-fragmen masa kecil Abu membanjiri otak Abu. Batin menyimpan ingatan (juga) ternyata. Abu teringat almarhum ayah, karib kerabat di pesisir barat Aceh yang telah tiada terutama karena diterjang tsunami tahun 2004. Dan yang paling Abu kenang adalah kesalahan- kesalahan yang pernah di buat pada masa lalu. Betapa Abu (selalu) menjadi seseorang yang terlambat untuk belajar.

Begini kira-kira, cara pandang manusia dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri, dengan cara pandang seperti itu ketika mendonggak langit dan melihat bulan bisa terlihat lebih besar atau lebih kecil. Tahun 1988, keuangan keluarga kami sedang tidak baik. Ayah baru dimutasi ke Meulaboh, biaya hidup membuat kami harus menjual pickup Chevrolet dengan harga Rp. 800.000,- Anggaplah hari ini harga mobil pickup pada tahun 2023 adalah Rp. 60.000.000,- maka nilai uang Rp. 7000,- di tahun 1988 mungkin sama dengan Rp. 525.000,- hari ini. Betapa banyaknya! Mengingat itu, Abu merasa semacam rasa malu ketika duduk menulis seakan betapa egois dan keras kepala, kekanakan diri ini. Kecerdasan manusia tidak bisa dipaksakan kepada seseorang ketika belum saatnya (dia) tiba, begitulah Abu pada masa itu.

Seiring waktu Abu bekerja dan memperoleh penghasilan. Entah kenapa Abu menyukai mainan mobil-mobilan dan kerap menyisihkan sedikit gaji untuk memenuhi hasrat tersebut. Suka memberi hadiah kepada keponakan berupa mainan, mungkin adalah sebuah hasrat dari masa kecil yang belum pernah tercapai utuh. Atau mungkin bisa jadi hanya sebuah dendam kekuasaan yang berbeda rupa, yaitu dendam kemiskinan. Sampai pada suatu malam, sendirian di perantauan dan mengalami demam Abu bertanya kepada diri sendiri. Kapan ini semua akan berakhir? Atau mungkin tidak pernah berakhir.

Sebagai seseorang yang pernah mengalami kekurangan seharusnya Abu tahu kekayaan kemiskinan, hanya (mereka) yang pernah menderita yang tahu kekayaan penderitaan. Bahwa ada hasrat-hasrat yang tak tercapai sesungguhnya baik bagi jiwa, seharap apapun kita padanya. Ada nilai yang agung dan substansial dari menahan keinginan. Sebuah moral yang memberikan ketenangan kepada kita ketika berhadapan dengan orang lain, begitupun ketika orang lain berhadapan dengan kita. Ada perasaan aman, semua manusia pasti senang berhadapan dengan orang yang santun dan baik. Sesuatu hal yang membuat kita percaya bahwa tiap-tiap manusia pasti memiliki kebaikan dalam dirinya.

Ketika Abu merenungi (dalam-dalam)  uang, nilai, dan jabatan adalah hal yang bisa jadi mudah ataupun sulit didapatkan di dunia. Tapi yang paling  sulit adalah ketika kita harus menjawab  pertanyaan. Apakah  yang sudah  kamu lakukan di dunia?

Dalam setiap tafakur, niscaya terdapat rasa syukur. Ini adalah hari dimana Abu merasa selaku manusia tidak memiliki alasan yang menyatakan Allah tidak mencintai kita, hamba-Nya yang penuh salah dan lupa ini.

Langsa, 00:39 WIB, 5 Januari 2023

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.