Browsing category

History

History

وداعاً يا أندلسيا

وداعاً يا أندلسيا وادي الكبير، شبه الجزيرة الأيبيرية. 1468 م لقد سئم هذا الحصان العربي من المشي، من تسلق التل طوال الليل إلى مكان اللقاء. اليوم، أنا، عبد الرحمن، أمثل إمارة غرناطة، الدولة الإسلامية الوحيدة المتبقية في الأندلس. يغمرني الحزن … Continue reading →

IBNU KHALDUN PERINTIS ILMU SEJARAH DAN ILMU-ILMU SOSIAL MODERN

Tahukah kalian pada abad ke-14, Ibnu Khaldun membuat sebuah Analisa brilian bahwa setiap kekaisaran besar akan jatuh, dia menemukan sebuah pola yang akan mengubag persepsi kita dalam memahami keberhasilan dan kegagalan selamanya. Ketika ia mengasingkan diri di Benteng Salamah (Qal’at ibn Salama), Aljazair, ia menulis muqaddimah dan membuka teori tentang peradaban. Continue reading →

KING NEAR GOD AWAY

Lilawangsa replied nonchalantly, “King Near God Far!” The Frenchman, named de Beaulieu, recorded Lilawangsa’s words, later this sentence would appear in the memoirs of his trip to Aceh, rewritten by Denys Lombard in a book entitled “The Kingdom of Aceh at the Age of Sultan Iskandar Muda.” Continue reading →

WHY IS HISTORY IMPORTANT TO LEARN?

Every human being is a newborn in this world. Not knowing what happens before we are born means (we) are always children. How many years can humans live? And what is the meaning of life? Unless (our) life is intertwined with the lives of the ancestors. It’s all through historical records. Continue reading →

DIMANA LETAK ISTANA KERAJAAN ACEH DARUD DONYA

Melalui penghancuran Istana Daruddonya Belanda ingin menghapus identitas orang Aceh, menjadi manusia baru yang tidak kenal siapa nenek moyangnya, tidak kenal asal usulnya dan merasa rendah diri dihadapan mereka. Sebagai bangsa yang jumawa, Belanda sempat mengabadikan beberapa foto. Bahkan untuk keperluan perang mereka sempat membuat peta, tanpa mereka sadari ini membantu ketika kita ingin merekonstruksi kembali letak istana Daroddonya. Continue reading →

APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA

Hikayat Prang Sabi sebagai media dakwah yang sanggup membangkitkan semangat perang dan jihad fi Sabilil-lah orang Aceh untuk melawan para serdadu Belanda, dipandang oleh pimpinan Hindia Belanda sebagai senjata yang sangat berbahaya, sehingga dilarang membaca, menyimpan dan mengedarkannya. Continue reading →