
Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya.
PERADABAN TANPA TULISAN JILID DUA
Lanjutan dari Peradaban Tanpa Tulisan
Membaca bukanlah hal alami bagi otak manusia, tak wajib ada untuk bertahan hidup. Para peneliti merumuskan bahwa jutaan tahun masa pra-sejarah manusia tidak membaca dan tak mengenal tulisan, mereka bertahan dan baik-baik saja (Dehaene, 2009; Ong, 2002). Kehidupan berjalan, manusia berburu dan mengumpulkan makanan dari alam sampai menuju fase pertanian dan perternakan, pelan dan pasti generasi demi generasi. Kebijaksanaan dan pengetahuan diturunkan dari generasi demi generasi.
Ketika sebagian manusia memilih menetap, sekitar 3200-3000 Sebelum Masehi, di kota Uruk Mesotamia (sekarang Irak). Pertanian berkembang pesat, perdagangan menjadi semakin rumit, penyimpanan hasil panen, pajak yang dipungut membuat kepasitas manusia tidak lagi mampu mengingat segalanya (Nissen, Damerow, & Englund, 1993; Schmandt-Besserat, 1992). Masalah menciptakan solusi, munculah tulisan dikenal dengan aksara paku (Cuneiform), ternyata catatan komoditas seperti julah gandum, ternak, transaksi perdagangan, inventaris dan kepentingan penguasa berupa pajak melahirkan fase baru dalam peradaban manusia yaitu sejarah (Liverani, 2014).
Kemunculan tulisan kemudian bertindak memicu percepatan peradaban melahirkan kodifikasi hukum formal, hukum tulis pertama Kode Hammurabi di Babilonia untuk menjaga ketertiban masyarakat (Van De Mieroop, 2005). Selanjutnya memicu lahirnya sains dan sastra tertulis, matematika, astronomi, medis hingga epos Gilgamesh (Raja Uruk) dicatat untuk kemudian diwariskan (Bottéro, 1992). Kemunculan kelas baru pun terjadi, para juru tulis (scribes), untuk memenuhi kebutuhan didirikan sekolah-sekolah formal dan untuk mengarsipkan didirikan pula perpustakaan (Casson, 2001).
Setelah lahir di Sumeria, tulisan menyebar ke berbagai belahan dunia secara mandiri maupun melalui difusi budaya antara lain; Peradaban Sungai Nil, Mesir kuno (3100 SM), Lembah Indus, Asia Selatan (2600 SM), Lembah Sungai Kuning, Tiongkok (1200 SM), Mesoamerika, Maya (900-500 SM) (Coe, 1992; Robinson, 2007). Alfabet pertama (fonetik) baru lahir sekitar 1500 SM di wilayah Kanaan (Funisia), yang kemudian diadopsi oleh bangsa Yunani dan menjadi akar sebagain besar alfabet modern dunia (Diringer, 1996).
Berinteraksi dengan berbicara adalah kesadaran alami manusia, sorang anak yang lahir di manapun, akan memahami bahasa orang-orang sekitarnya (Pinker, 1994). Tapi membaca bukan kesadaran alami manusia. Tulisan yang baru ada sekitar 6000 tahun lalu, terlalu singkat dalam skala evolusi untuk membuat otak berkembang secara alami untuk membaca (Dehaene, 2009). Sehingga untuk bisa membaca otak harus melakukan upaya luar biasa, ketika sesorang belajar untuk membaca pertama kalinya. Pertama mengenali huruf, bibir melafalkan seolah sederhana tapi ini adalah proses otak bekerja dengan keras, dimana otak sedang menyambungkan tiga hal sekaligus yang belum pernah terhubung sebelumnya. Yaitu; mengenal bentuk huruf, merasakan bunyinya dalam kepala dan memaknai maknanya (Wolf, 2007). Awalnya pelan, terasa berat. Upaya terus menerus itu membentuk jalur dalam pikiran sampai satu ketika, dia membaca tanpa merasa telah membaca. Proses ini yang membedakan membaca dengan menonton misalnya. Sebuah sajian tontonan telah menyediakan gambar, suara, emosi. Ritme. Otak tinggal duduk dan menerima, otomatis (Greenfield, 2014).
Membaca adalah proses aktif dari otak, mengenali kata, merasakan bunyinya, dan membangun gambaran sendiri. Hal ini membuat efeknya menjadi lebih dalam (Carr, 2010). Ketika merasa membaca buku itu berat, maka bukan tidak mampu akan tetapi otak sedang latihan di level yang paling dalam. Duduk diam dan membaca dengan fokus penuh itu senakin sulit setiap harinya, notifikasi dan distraksi adalah hal yang tak bisa dihindari (Twenge, 2017).
Setelah tulisan ditemukan, dibaca dan diajarkan maka sejak itulah sejarah dimulai.
Tahun ini (2026) masuk rentang waktu abad ke-21 dan sejak tahun 2001 memasuki milineum ke-3. Ketika tulisan ini ditulis, penulis berusia 42. Lahir sebelum pergantian abad dan cukup beruntung untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang lahir pada awal abad ke-20 dan akhir abad ke-19. Beberapa orang yang pernah penulis temukan di masa remaja memiliki pola pikir dan pola hidup yang sama sekali berbeda. Mereka bisa membaca dan menulis, namun tidak terlalu menganggap hal itu terlalu penting.
Istilah “tertinggal” sering dilabelkan kepada masyarakat atau individu non-literatus. Mereka disebut masyarakat berbudaya lisan primer yang memilih atau tidak mengembangkan sistem aksara konvensional karena struktur sosial dan ekologis mereka tidak terlalu membutuhkannya (Ong, 2002; Goody, 1987).
XXX
Abad ke-20 (latar belakang penulis di Aceh) adalah saat-saat terakhir dimana bisa melihat para nenek ke hutan dan kebun untuk mencari dan memilih daun untuk meredakan demam. Adalah mengesankan menyaksikan nenek berbicara dengan padi agar tumbuh subur, serta mengingatkan burung pipit untuk tidak memakan terlalu banyak. Cara mereka melihat bulan, kapan waktunya mencari kepiting di pinggir pantai. Hal-hal tersebut bagi yang muda tidak lagi paham.
Baca: |Kaki Gajah| dan |Kaki Gajah Bagian Dua|
Beberapa orang menganggap itu sebagai kolot, ortodoks. Memang dunia modern telah memetakan banyak ilmu, termasuk medis, sekarang obat datang dalam kemasan dalam kotak, kemampuan memilih daun tidak diperlukan lagi, orang-orangnya pun semakin berkurang. Kebijaksanan kuno memudar sebagaimana hari menjelang malam.
Ada yang sentimentil ketika membayangkan apa yang nenek-nenek kita ketahui dulu, terkubur ketika penuturnya pergi, ribuan tahun pengetahuan yang tak dibukukan ini siapa yang bisa mengingatnya. Penulis mencoba menuliskan beberapa, berharap itu tak musnah, tak biarkan itu pergi, hikayat akan tanah ini yang telah digengam dengan tangan-tangan mereka, setiap pohon, setiap bintang serta alasan kita ada. Sayang pohon-pohon heterogen telah berganti homogen (sawit) dan kebenaran telah terjual hanya untuk makan.
Sebagai generasi muda penulis mengetahui ribuan hal (yang tidak diketahui leluhur), namun hanya sedikit ingat senandung mereka. Andai saja waktu masih ada penulis akan duduk bersama mereka, selagi mereka hidup, mempelajari bahasa-bahasa kemudian mendekap dalam dada, ketika nenek tiada pengetahuan musnah. Adalah kewajiban membawa cerita leluhur, menanggungnya, jika tidak siapa yang akan pernah mengingat mereka. Bahwa kebijaksanaan lama (kuno) harus dinyalakan dengan api membara, kisah-kisahnya harus diceritakan pengurus, bagai mahkota yang diwariskan.
Sejarah memberi pandangan, bahwa musuh-musuh pasti ingin menjadikan kita kosong, dijadikan baru, tanpa akar yang lama telah dilalui, pohon tanpa akar akan tumbang. Tanpa kebijaksaan lama (kuno) yang menjaga kita tidak peduli pohon-pohon ditebang, gunung-gunung dikeruk, pada akhirnya kita dan anak cucu yang menanggung bencananya. Bahwa pengetahuan ini lebih berharga dari emas, mewariskan pengetahuan, mewariskan nama-nama serta memelihara cahayanya, menjadi echo kepada generasi penerus.
XXX
Ada yang bilang sejak tahun 2010, dipicu oleh ledakan telepon pintar, internet berkecepatan tinggi, serta algoritme media sosial berbasis video (seperti TikTok, Intagram, Reels dan Youtube Shorts) muncul kondisi sosial masyarakat paska-literasi dimana fenomena sosial meninggalkan kebiasaan membaca dan menulis teks panjang dan mendalam (Postman, 1985; Hedges, 2009). Beralih pada media multimedia, audio visual dan digital instan. Berbeda dengan masyarakat buta huruf, masyarakat paska literasi mampu membaca dan menulis, namun memilih untuk tidak melakukannya untuk mencari informasi, Huruf-huruf digantikan oleh simbol grafis, video pendek, audio, dan aliran streaming (Kress, 2003).
Kecerdasan buatan yang semakin berpartisipasi dalam produksi, transformasi, dan sirkulasi bahasa, pertanyaan yang lebih berdampak mungkin adalah apa yang terjadi pada kapasitas kita untuk mempertahankan perhatian, interpretasi, dan agensi intelektual.
Masyarakat pasca-literasi bukanlah masyarakat tanpa tulisan. Sebaliknya, ini mungkin menjadi masyarakat dengan terlalu banyak tulisan. Apa yang berubah belum tentu hilangnya teks, melainkan posisinya di dalam tatanan komunikasi. Literasi mungkin kehilangan posisi kulturalnya yang istimewa tanpa menjadi usang. Seiring kecerdasan buatan yang semakin berpartisipasi dalam produksi, transformasi, dan sirkulasi bahasa, pertanyaan yang lebih berdampak mungkin adalah apa yang terjadi pada kapasitas kita untuk mempertahankan perhatian, interpretasi, dan agensi intelektual (Floridi, 2014; Carr, 2020).
Setiap perubahan prilaku memiliki dampak baik dan buruk sekaligus.
Kebaikan:
- Kecepatan dan Efisiensi Informasi: Informasi global dapat diakses, diserap, dan disebarkan dalam hitungan detik tanpa hambatan struktur bahasa yang kaku (Castells, 2010);
- Literasi Visual dan Multimodal yang Tinggi: Generasi muda sangat mahir menerjemahkan simbol, desain grafis, navigasi antarmuka digital, dan bahasa gambar secara instan (Kress, 2003).
- Demokratisasi Konten Kreatif: Siapapun dapat memproduksi informasi dan menjadi kreator tanpa harus melalui kuralisasi penerbit buku konvensional yang eksklusif (Jenkins, 2006).
Keburukan:
- Atrofi Kemampuan Berpikir Kritis (Deep Thinking): Otak manusia terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga rentang perhatian (attention span) menyusut drastis (riset menunjukkan rata-rata di bawah 9 detik) (Twenge, 2017; Carr, 2010).
- Dangkalnya Pemahaman Kontekstual (Superficial Understanding): Hilangnya kebiasaan membaca buku membuat masyarakat mudah termakan disinformasi (hoaks) karena malas membaca berita secara utuh (headline psychology) (Wardle & Derakhshan, 2017).
- Erosi Kosakata dan Kemampuan Menulis: Penurunan drastis pada kemampuan merangkai kalimat yang kompleks, runtut, dan bernuansa akademik maupun filosofis (Baron, 2015).
Jika kita renungkan, keadaan ini bukanlah kemajuan evolusi budaya melainkan bentil “buta huruf baru” secara fungsional, keadaan seseorang bisa membaca huruf secara mekanis, tapi kehilangan kapasitas untuk memaknai, merenungkan, dan menganalisa esensi dari informasi yang dikonsumsinya (Hirsch, 1987; Wolf, 2018). Patut dicari cara mencegah menurunnya daya ketahanan kognitif generasi kedepan menghadapi teks yang rumit dan mengancam kualitas berpikir kritis anak muda masa depan.
XXX
Ketika tulisan, sejarah dientaskan. Manusia tak punya kemungkinan kembali kepada peradaban tanpa tulisan kecuali generasi musnah dan jembatan itu terputus. Selama jutaan tahun manusia berkembang dari masa ke masa. Tiap-tiap masa ada orangnya, dan tiap orang ada masanya.
XXX
Daftar Pustaka:
- Baron, N. S. (2015). Words Onscreen: The Fate of Reading in a Digital World. Oxford University Press.
- Bottéro, J. (1992). Mesopotamia: Writing, Reasoning, and the Gods. University of Chicago Press.
- Carr, N. (2010). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. W. Norton & Company.
- Carr, N. (2020). The Glass Cage: Automation and Us. W. Norton & Company.
- Casson, L. (2001). Libraries in the Ancient World. Yale University Press.
- Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society. Wiley-Blackwell.
- Coe, M. D. (1992). Breaking the Maya Code. Thames & Hudson.
- Dehaene, S. (2009). Reading in the Brain: The New Science of How We Read.
- Diringer, D. (1996). The Alphabet: A Key to the History of Mankind. Munshiram Manoharlal Publishers.
- Floridi, L. (2014). The Fourth Revolution: How the Infosphere is Reshaping Human Reality. Oxford University Press.
- Goody, J. (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press.
- Greenfield, S. (2014). Mind Change: How Digital Technologies Are Leaving Their Mark on Our Brains. Random House.
- Hedges, C. (2009). Empire of Illusion: The End of Literacy and the Triumph of Spectacle. Nation Books.
- Hirsch, E. D. (1987). Cultural Literacy: What Every American Needs to Know. Houghton Mifflin.
- Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York University Press.
- Kress, G. (2003). Literacy in the New Media Age.
- Liverani, M. (2014). The Ancient Near East: History, Society and Economy.
- Nissen, H. J., Damerow, P., & Englund, R. K. (1993). Archaic Bookkeeping: Early Writing and Techniques of Economic Administration in the Ancient Near East. University of Chicago Press.
- Ong, W. J. (2002). Orality and Literacy: The Technologizing of the Word. Routledge (Edisi asli 1982, direvisi 2002).
- Pinker, S. (1994). The Language Instinct: How the Mind Creates Language. William Morrow and Company.
- Postman, N. (1985). Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business. Viking Penguin.
- Robinson, A. (2007). The Story of Writing: Alphabets, Hieroglyphs & Pictograms. Thames & Hudson.
- Schmandt-Besserat, D. (1992). Before Writing: From Counting to Cuneiform (Vol. 1). University of Texas Press.
- Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy–and Completely Unprepared for Adulthood. Atria Books.
- Van De Mieroop, M. (2005). King Hammurabi of Babylon: A Biography.
- Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information Disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making. Council of Europe.
- Wolf, M. (2007). Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain.
- Wolf, M. (2018). Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World.
XXX
Beberapa opini terakhir:
- BustanusSalatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
- Kenapa Sejarah Tak Boleh Dilupakan; 4 Oktober 2020;
- Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
- Mengapa Harus Mempelajari Bahasa Daerah; 17 Maret 2021;
- Ilmu Memahami Ilmu; 15 Juni 2021;
- Lembu Patah; 18 Desember 2021;
- Jangan (Mudah) Percaya Dengan Apa Yang Kau Baca; 12 Februari 2022;
- Aceh Yang Dilupakan; 29 Maret 2022;
- Sejarah Tak Bepihak Kepada Kita; 8 September 2022;
- Di Bawah Naungan Lentera; 26 Januari 2023;
- Masihkah Orang Aceh Berjiwa Penyair; 24 Juni 2023;
- Ditampar Kebenaran; 8 Oktober 2023;
- Bagaimana Mengelola Harta Menurut Hikayat Kalilah wa Dimnah; 8 April 2024;
- Menjawab Polemik Makam Tandingan Syekh Abdur Rauf As-Singkili Atau Tengku Syiah Kuala; 12 Mei 2024;
- Amanah Wali: Selamatkan Hutan Aceh; 19 Desember 2025;
