Site icon Tengkuputeh

SUNGAI KEJAYAAN

MATA UANG EMAS KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Jembatan Beurawe di tepian Krueng Aceh (pernah menjadi saksi kejayaan Kerajaan Aceh). Suatu pagi, 18 Rabiul Awal 1448 H – 31 Agustus 2026 –

 

SUNGAI KEJAYAAN

 

Sungai Aceh mengalir deras ke utara, airnya bisakah menjadi cermin?

Ombak menghanyutkan para pahlawan

Benar salah, sukses gagal, sirna dalam sekejap

Gunung Seulawah tetap berdiri, pasaknya bisakah menjadi tongkat?|1|

 

Berapa kali senja merah? Jarak antara kita dengan Meurah Johan|2||3|

Lebih delapan abad. Mungkinkah 25 generasi?|4|

Sebagai manusia kita harus berpandangan jauh.

Jangan mengejar keuntungan kecil di depan mata

 

Jadikan Ali Mogayat Syah|5| cermin, ingatlah Tazkirah Thabaqat|6||7|, buah pikir dari abad 15 Masehi

Generasi demi generasi lupa, naskah pun telah rusak

Lindungi hutan, lindungi masa depan.  Selamatkan hutan, selamatkan anak cucu

Aku menangisi takdirku, pelan-pelan melihat jalan kehancurannya

 

Di tepian Krueng Aceh. 31 Agustus 2026 (18 Rabiul Awal 1448 H)|8|

 

Geografi, demografi, kebudayaan sebagaimana cinta, tiada abadi tanpa upaya saling memelihara, pilihannya hanyalah musnah|9|.

 

Catatan Kaki:

1. Krueng Aceh dan Gunung Seulawah: Krueng Aceh (Sungai Aceh) merupakan urat nadi hidrologi utama yang membentang dari hulu Aceh Besar hingga muara Banda Aceh, sedangkan Gunung Seulawah berfungsi sebagai benteng vegetasi ekologi dan pilar topografis wilayah barat Sumatra (Ibrahim, 2023). Sumber: Alfian, T. Ibrahim. (2021). Wajah Asia Barat di Mata Pujangga Aceh (Edisi Revisi). Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.

2. Meurah Johan: Tokoh historiografis yang diyakini dalam tradisi lisan (Hikayat Aceh) dan historiografi lokal sebagai pendiri Kerajaan Lamuri/Darussalam pada abad ke-12 M (Djajadiningrat, 1983). Gelar Meurah (Gajah) merupakan gelar kehormatan bagi penguasa/bangsawan pra-Islam di Aceh. Sumber: Djajadiningrat, Hoesein. (1983). Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan yang Terdapat dalam Karya Sastra Melayu (Terjemahan Teuku Hamid). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

3. Meurah Johan: Pendiri Banda Aceh (Kutaraja): Hasjimy menyimpulkan bahwa Sultan Johan Syah (Meurah Johan) naik tahta dan mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam pada hari Jumat, 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M). Tanggal ini yang kemudian dijadikan dasar penetapan hari jadi Kota Banda Aceh. Sumber: Hasjimy, A. (1993). Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.

4. Kalkulasi Generasi: Rentang waktu 8 abad (abad ke-12 hingga ke-21 M) mencakup estimasi 25 generasi (800 tahun). Hal ini melambangkan terputusnya rantai ingatan sejarah antara generasi pendiri dan generasi modern.

5. Sultan Ali Mughayat Syah: Pendiri sekaligus Sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam (1514–1530 M) yang menyatukan kerajaan-kerajaan kecil (Lamuri, Daya, Pedir, Pasai) serta menghentikan penetrasi kolonial Portugis di Selat Malaka (Lombard, 2014). Sumber: Lombard, Denys. (2014). Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636) (Terj. Winarsih Arifin, Cetakan Ulang). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

6. Tazkirah Thabaqat: Risalah etik tata negara dan silsilah kepemimpinan dalam korpus sastra Melayu-Aceh abad ke-15–17 Masehi. Naskah-naskah ini memuat panduan etika kepemimpinan serta pengelolaan keseimbangan antara manusia dan alam (Alfian, 2021). Sumber: Alfian, T. Ibrahim. (2021). Wajah Asia Barat di Mata Pujangga Aceh (Edisi Revisi). Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.

7. Tazkirah Thabaqat: Penyusun Awal (Abad 15-16 M / 913 H): Naskah awal disusun oleh Syekh Abdullah Asyi atas perintah Sultan Ali Mughayat Syah seiring dengan pembentukan Kerajaan Aceh Darussalam yang bersatu (sekitar tahun 1514 M).

8. Konversi Penanggalan Ganda (Masehi – Hijriah): Tanggal 31 Agustus 2026 Masehi bertepatan dengan tanggal 18 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Penulisan penanggalan ganda ini mengikuti tradisi penyuratan klasik Melayu-Nusantara yang memadukan kalender syamsiyah (masehi/sipil) dan qamariyah (hijriah/islam).

9. Maksim Ekologi-Kultural (Epilog): Catatan penutup berupa klausa filosofis yang menegaskan prinsip ekokritisisme. Keberlanjutan bentang alam (geografi), populasi manusia (demografi), dan peradaban (kebudayaan) saling terikat secara dialektik (co-dependence); tanpa asas konservasi dan pemeliharaan aktif, kehancuran (extinction) adalah konsekuensi mutlak.

Beberapa Puisi terdahulu:
  1. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  2. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  3. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  4. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  5. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  6. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  7. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  8. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
  9. Hati Resah Berkisah; 1 April 2021;
  10. Kopi Pahit Semalam; 11 Agustus 2021;
  11. Mimpi Mimpi Pion; 30 November 2022;
  12. Kembali Pada Kekasih; 28 Mei 2022;
  13. Ingatan Sebatang Pohon Asam; 21 April 2024;
  14. Mahligai Kemasygulan; 27 Desember 2025;
  15. Sungai Kesetaraan; 8 Juni 2026;
Exit mobile version