Site icon Tengkuputeh

YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

Disuatu senja ketika Matahari dan Bulan bertemu, menjaga jarak dan malu-malu.

YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

Disuatu senja ketika Matahari dan Bulan bertemu, menjaga jarak dan malu-malu. Ini semua mengingatkan bahwa sebuah tubuh bisa gentar, ketika ia ditinggalkan segala kembang pemuas dahaga rohani. Segala seolah menjadi pahit, ironis dan kehilangan gairah di dunia yang tak mau mengalah.

Ingin mengatakan bahwa sekarang tak ingin lebih buruk dari masa lalu, karena masa lalu yang sangat buruk. Ketika masa lalu mengelak, ketika (kita) tak merasa terkait dengan petilasan tua, disitulah harapan hadir. Harapan atas keyakinan berjuang untuk setia pada mimpi, adalah kegilaan yang memberi harga pada manusia.

Dan (terkadang) kita harus pasrah menerima nasib buruk ini sebagai takdir. Ketika terhenyak merasakan perasaaan, perasaan yang sudah lama tak pernah datang. Dan (mungkin) tak ada tafsir kata yang akan tepat berbicara, ketika lidah seolah menolak berkata-kata padahal banyak yang ingin diungkapkan. Dan (ternyata) derita jiwa tak menumpul seiring bertambah usia. Perasaan terkalahkan ini, padahal kita sudah bertemu di sejarah yang lain. Tapi (memang) hidup manusia dilecut waktu. Yang memukau tak selamanya memukau.

Dan (mungkin) hanya dalam sengsara dan mengenal kesengsaraan kebesaran jiwa bukan sebuah kesombongan. Dan (selalu) sebuah pagi setelah hujan akan sangat menyegarkan.

XXXXXXXXXX

Exit mobile version