PLEDOI IBLIS
Entah syaithan mana yang merasukimu hingga engkau mengancamku? Aku yang terlihat tolol ini bukan tak tahu. Aku hanya merasa tak perlu tahu akan tingkah polah dibelakangku. Ada hal lain yang lebih penting untuk disimpan bergiga kapasitas otakku. Bukan itu, yang menjadi perhatian bagiku.
Jika selama ini aku diam bukan berarti kutunduk, mungkin engkau memang terlahir sebagai ratu yang bebas bertindak dengan segenap dayang-dayangmu. Yang dengan mudah mengendalikan bidak para punggawa. Tapi aku bukan mereka.
Dengan bagaimana lagi caraku mengatakannya, jika lidahku enggan mengeluarkan kalimat kebencian. Dan hari ini ketika akhirnya aku bersuara, itu karena ketidaknyamanan sudah menyergap ragaku.
Bahkan disaat aku hancur, tidak semudah itu engkau menaklukkanku. Syukurlah engkau tidak tahu. Dan pun jikalau suatu hari engkau tahu maka bacalah pernyataanku ini. Siapa kamu? Berani sekali padaku. Kamu pikir kamu siapa? Aku bukan budak, aku adalah manusia merdeka.
Katakan pada iblis yang menguasaimu, ancaman itu tak menggetarkanku. Tangan-tanganmu tak akan pernah bisa menyentuhku. Tahu kenapa? Karena aku adalah orang yang tak memiliki harapan. Dan orang yang tak memiliki harapan juga tak memiliki ketakutan.
Jika engkau memang bernyali, coba tatap mataku. Dan ulangi kata-katamu.
XVIII

