
Campuran wangi bunga yang tak dikenal. Sedikit tetesan keringat memacu bagai hulu ledak luar biasa. Aroma tersebut menggetarkan jantung. Bau khas perempuan!
AROMA PEREMPUAN HIJAU
Bau apa ini? Hidung Abu merasa asing, campuran wangi bunga yang tak dikenal. Sedikit tetesan keringat memacu bagai hulu ledak luar biasa. Aroma tersebut menggetarkan jantung Abu sesaat. Bau khas perempuan! Sudah terlalu lama Abu tidak membaui keharuman ini sehingga sudah terlupa bagaimana rupa bentuknya. Sel Abu-Abu dalam otak Abu pun berputar cepat membuat jantung semakin berdegup kencang.
Perempuan itu berbaju hijau dengan rok hijau pula. Aha seandainya dia tak mengenakan warna hijau akan Abu sikut dia ketika dengan tenang menyalin ujian final milik Abu. Terlambat datang, sedikit senyum dengan dosen pengawas. Lalu duduk disamping Abu, terus seenaknya menyandarkan tubuhnya untuk kemudian menyontek dengan terbuka didepan sekian banyak orang. Dimana otaknya??? Tapi Abu adalah pribadi yang punya masalah dengan warna hijau sebab walaupun mengaku sebagai fans AC MILAN yang identik dengan warna MERAH–HITAM, Abu memiliki kesan khusus dengan warna hijau terutama dengan perempuan yang mengenakan warna tersebut. Sebuah alasan emosional dimana kilasan kisah tentang masa lalu menahan Abu untuk marah terhadap aksi-aksi polisionil sang perempuan hijau.
Waktu ujian sudah berlalu sejam dari seratus dua puluh menit ditetapkan, teori dan analisis ekonomi tak pernah menyulitkan Abu. Lima belas menit lalu sudah menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Namun Abu tak pernah berkeinginan segera untuk mengumpulkan jawaban, bukan karena si perempuan hijau tapi itulah kebiasaan Abu dalam ujian apapun. Mengusahakan mengumpul terakhir, sebab dalam waktu ada keniscayaan dan mengamati ekspresi orang yang tekun mengerjakan soal adalah hobi lain Abu yang tak pernah diketahui oleh orang.
“Tulisan Abu lebih rapi dibanding perempuan.” Sang perempuan hijau buka suara. Abu hanya tersenyum tak bicara tapi dalam hati berkata, “Nona tahukah kamu bahwa Abu ini anak seorang guru yang memiliki standar tinggi tentang kerapian tulisan! Dididik bisa membaca diumur empat tahun dan belajar menulis indah sejak kelas satu Madrasah Ibtidaiyah dengan sapu lidi sebagai barometer dan lebih keras lagi sewaktu masih duduk dibangku sekolah catatan Abu diperiksa setiap minggunya!”
“Sepertinya dibagian ini Abu ada yang ketinggalan, atau aku yang salah ya?” Venus selalu tak percaya diri dan hampir selalu tanpa solusi begitupun sang perempuan hijau. Tapi tuhan memberikan mereka ketelitian yang luar biasa mengalahkan Mars terhebat sekalipun! Aha memang benar dinomor dua Abu sedikit kurang penjelasan. Setelah menambahkan bagian yang kurang Abu menatap sang perempuan hijau, bibirnya yang tebal menurut teori ahli Kriminologi abad ke-18 asal Austria, Lamrusso merupakan ciri pasangan setia berkicau pelan membaca tulisan didepannya. Sadar Abu menatapnya, wajah polos tanpa polesan make-up itu terlihat grogi dan meremas pulpen PILOT ditangan. Ia tidak tahu jalan pikiran Abu dan terang tak dapat menebak sedikitpun apa didalamnya. Akhirnya selesai menyalin jawaban Abu, waktu masih tersisa lima belas menit. Ia minta izin lebih dulu mengumpulkan jawaban, Abu mengangguk. Sebelum keluar ia menoleh kepada Abu untuk tersenyum dengan wajah termanis yang bisa ia berikan lalu keluar.
Disisa waktu Abu menambah sedikit analisis Ekonomi untuk melengkapi jawaban Abu tadi, hasil inspirasi waktu lowong ketika sang perempuan hijau mengcopy-paste jawaban tadi. Bukannya bermaksud mencurangi sang perempuan hijau, prediksi Abu salinan tadi sudah cukup membuatnya mendapat nilai A. Tapi berbeda dengan Venus yang komunal dan tak nyaman berkompetisi. Kami makhluk Mars adalah pencinta alam kompetisi, termasuk Abu. Haruslah menjadi yang nomor satu, bahkan jika harus berbagi tempat yang sama kami harus menjadi yang berbeda dengan yang lain. Walaupun jika sama-sama mendapat nilai A harus dengan kualitas yang berbeda. Tak sedikitpun ingin disamai.
Musim ujian Final di Unimal terus berlanjut, keesokan harinya sang perempuan hijau dengan bau yang sama berpapasan ditangga kampus, kali ini dengan pakaian Pink Abu hanya tersenyum membuat wajahnya memerah melebihi pakaian yang ia kenakan. Tapi hati adalah sesuatu yang mudah berbolak-balik. Ketika minggu berikut ia mengenakan pakaian kuning kemudian terakhir biru, Abu tak lagi peduli. Aroma hijau seolah hilang tak berbekas dibenak Abu. Sombong? Entahlah? Yang pasti Abu tak terlalu mudah akrab dengan orang, walau sudah tiga semester berkuliah bersama tak membuat jarak antara Abu dan teman-teman kuliah terutama pihak perempuan mencair. Sejak semester satu beberapa kali mereka tertangkap tangan menggosipkan kesombongan Abu, yang parahnya Abu bahkan tak peduli.
Kadang-kadang Abu bingung tentang sendiri. Entah hati ini terbuat dari apa? Mengapa ia sebegitu keras? Yang pasti bukan terbuat dari baja. Ia lumer sekejab ketika perempuan hijau dengan aroma khasnya menghampiri. Sungguh benar petuah lama, bahwa perempuan sebaiknya tak memakai wewangian mencolok, karena hidung merupakan bagian terlemah melebihi mata bagi seseorang laki-laki. Bau khas perempuan, sungguh lama sudah Abu tidak membauinya. Suatu keadaan yang menyebabkan resistensi Abu juga semakin melemah terhadapnya. Entah sampai kapan Abu bisa bertahan dijalan yang telah dipilih guna meraih cita-cita, untuk tidak melirik hingga waktunya tiba, entahlah. Bahkan Abu sendiri tak tahu.
semakin bertambah usia, semakin dewasa, waktu semakin rumit
“Abu”
