SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE

Peta Negeri Pidie oleh Belanda sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Peta Negeri Pidie oleh Belanda sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE

Sejarah Purba Negeri Pidie

Kerajaan Pedir atau negeri Pidie pada zaman purba memiliki perbatasan dari Kuala Batee sampai Kuala Ulim meliputi Meureudu. Nama Pidie sendiri tidak diketahui dari mana asalnya. Bangsa Portugis menyebut dengan Pidir (Pedir) kemudian bangsa Cina menyebut negeri ini dengan Poli.

Menurut ahli sejarah, di Sumatera Utara pada zaman purbakala terdapat beberapa kerajaan antara lain:

  1. Kerajaan Aru (Haru) yang luasnya dari Tamiang sampai Rokan;
  2. Kerajaan Peureulak dari Bayeun sampai ke Kuala Idi;
  3. Kerajaan Samudera-Pasai dari Kuala Jambo Aye sampai Kuala Ulim;
  4. Kerajaan Pedir (Pidie) yang kita sebut diatas dari Kuala Ulim sampai Kuala Batee;
  5. Kerajaan Aceh (Lamuri) dari Kuala Batee sampai Kuala Keuluang;
  6. Dan terakhir pada abad ke-15 Masehi berdiri kerajaan Daya.

Kerajaan Poli (Pedir/Pidie) menurut berita Tiongkok

Pada masa dinasti Liang berkuasa di kerajaaan Lamuri pada abad ke-5 tepatnya tahun 413 Masehi, seorang musafir bernama Fa Hin (Fa Hian) melawat ke Jeep Po Ti singgah di Sumatera bagian Utara, diantaranya dia singgah di Poli (Pidie). Disebutkan negeri Poli luasnya 100×200 mil, dengan 50 hari perjalanan dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan 20 hari perjalanan, terdiri dari 136 desa (gampong) yang makmur dan orang pribumi menanam padi dua kali setahun.

Fa Hin menulis dalam laporannya bahwa cara pertanian negeri Poli sama dengan Persia (Iran) dan India di sekitar lembah sungai Indus dan sungai Gangga. Negeri Poli juga memelihara ulat sutera dan kain buatannya ditenun sendiri seperti negeri Syam (Damsyik) atau Suria (orang Aceh menyebutnya dengan Surien). Raja memakai kain sutera, orang-orang peukan (pesisir) telah memakai kain, sedangkan orang udik masih memakai kulit kayu (cawat), pelita atau ketaja pada damar. Mereka telah tahu cara berternak kambing dan dilihatnya nelayan. Raja Poli ketika itu beragama Budha. Raja Poli pada tahun 518 Masehi mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk perkenalan dan hubungan diplomatik dengan Kaisar Cina.

Fa Hin menceritakan negeri Poli adalah sangat makmur, rajanya mengendarai gajah bermahkota emas dan berpakaian kain sutera. Pelabuhan Poli terletak dalam satu teluk yang genting di Kuala Batee.

Pada tahun 671 Masehi seorang Tiongkok lain I Tsing mengunjungi pesisir Aceh antara lain Samudera, Poli, Lamuri dan lain-lain. Dia tinggal 5 bulan lamanya disini. Pada masa kunjungannya I Tsing menceritakan bahwa para anak negeri (penduduk pedalaman) di kerajaan Peureulak, Samudera-Pasai, Poli, Lamuri dan Dagroian masih liar.

Kerajaan Pedir (Pidie) menurut berita Arab/Persia

Pada abad pertama Islam (tahun 82 H atau 717 M) sebuah ekspedisi dikepalai Zahid melakukan pelayaran ke Tiongkok. Kafilah berangkat dari Teluk Ajam-Parsi berkumpul di Kandi (Ceylan/Sri Langka), kemudian membagi armada menuju Canton (Tiongkok), ada pula yang ke Malaya, Kedah, Siam, Champa (Kamboja/Vietnam), Annam (India belakang), Jawa, Brunai, Makassar, Maluku dan lain-lain untuk mencari rempah-rempah. Ada beberapa kapal yang singgah di Aceh sebelum bertolak ke Canton.

Ekspedisi bangsa Arab/Persia kedua terjadi pada tahun 724 Masehi, kapal-kapal itu ke pesisir Aceh untuk membeli emas, perak, kapur barus, kemenyan, cendana. Pada masa itu mereka membawa bibit lada dari Madagaskar untuk dikembangkan di tanah Aceh.

Benteng Pidie terletak di Timur Ibu kota Aceh sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Benteng Pidie terletak di Timur Ibu kota Aceh sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Dalam Tarikh Arab lain disebut bahwa pada tahun 322 H / 950 M, orang Arab telah singgah di Rami (Lamuri) yang tak jauh dengan pelabuhan Poli (Pidie), dan sejak itu orang Arab dan Persia semakin ramai mengunjungi Sumatera (Nusantara). Hal itu karena tanah Pidie sangat subur untuk padi, dan merica (lada) paling baik kualitasnya. Lada Pidie bahkan disebut dengan “berat lada Pidie” maksudnya dari semua jenis lada yang diperdagangkan orang Arab, tidak terlawani kualitas jenis lada yang asalnya dari negeri Pidie.

Negeri Pedir (Pidie) berdasarkan Laporan Bangsa Portugis

Dalam riwayar Portugis diterangkan, sebelum mereka datang pada tahun 1509 Masehi. Kerajaan Aceh (Aceh Besar) takluk kepada Raja Pidie, tapi waktu itu mereka dalam keadaan perang. Mula-mula Pidie dikalahkan oleh raja Aceh (Besar) yaitu sultan Salahaddin ibnu Mussafar Syah dan didudukkan Wali Negara (Gubernur) di Pidie Raja Ali dan adiknya Ibrahim.

Raja Ibrahim atas perintah abangnya kemudian menyerbu benteng-benteng Portugis di Kuala Gigieng. Kemudian dari persenjataan yang dirampas ia menyerang raja Aceh Besar pada tahun 1514 Masehi, dan sultan Salahaddin diturunkan dari tahta. Raja Ali naik tahta dengan gelar Sultan Ali Mughayat Syah dan adiknya Raja Ibrahim menjadi laksamana.

Setelah Aceh (Besar) ditaklukkan, Kerajaan Daya pun menyusul, kemudian kerajaan Pasai dibebaskan dari Portugis dan kerajaan Peureulak dan kerajaan Aru pun taklukkan. Setelah itu Sultan Ali Mughayat Syah memproklamirkan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai kesatuan dari kerajaan-kerajaan: Daya, Aceh (Besar), Pidie, Pasai, Peureulak, dan Aru. Kerajaan ini beribukota di Kuta Alam (Banda Aceh). Bangsa Portugis mengirimkan laporan ke Lisabon bahwa kejadian ini terjadi pada rentang waktu 913-928 H atau 1514-1528 M.

Kerajaan Pidie setelah menjadi bagian Kesultanan Aceh Darussalam

Seorang pelawat Portugal, Ludovico di Varthema, yang pernah singgah di Pidie pada akhir abad 15. Ia mencatat pada abad tersebut Pedir, yang masih disebut sebagai negeri Pedir merupakan sebuah negeri maju yang setiap tahunnya disinggahi sekurang-kurangnya 18 sampai 20 kapal asing, untuk memuat lada yang selanjutnya diangkut ke Tiongkok, Cina.

Dari pelabuhan Pedir juga diekspor kemenyan dan sutra produksi masyarakat Pidie dalam jumlah besar. Karena itu pula, banyak pendatang dari bangsa asing yang berdagang ke pelabuhan Pedir. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi warga pelabuhan waktu itu meningkat. Bahkan vartheme menggambarkan, disebuah jalan dekat pelabuhan Pedir, terdapat sekitar 500 orang penukar mata uang asing.

Selanjutnya kerajaan Pidie menjadi sebagai kerajaan otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam, meskipun begitu peranan raja negeri Pidie tetap diperhitungkan. Bahkan, setiap keputusan Majelis Mahkamah Rakyat Kerajaan Aceh Darussalam, sultan tidak memberi cap geulanteu (stempel halilintar) sebelum mendapat persetujuan dari Laksamana Raja Maharaja Pidie. Maha Raja Pidie beserta uleebalang syik dalam Kerajaan Aceh Darussalam berhak mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan balai rakyat negeri masing-masing. Dalam beberapa keadaan raja Pidie atau keturunannya menjadi Sultan Aceh Darussalam.

Berikut silsilah dan daftar raja-raja Pidie:

  1. Maharaja Sulaiman Noer: Anak Sultan Husein Syah;
  2. Maharaha Sjamsu Syah: Kemudian menjadi Sultan Aceh;
  3. Maharaja Malik Ma’roef Syah: Putra dari Maharaja Sulaiman Noer. Mangkat pada tahun 1511 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya;
  4. Maharaja Ahmad Sjah: Putra Maharaja Ma’roef Syah. Pernah berperang melawan Sulthan Ali Mughayat Syah, tapi kalah. Mangkat pada tahun 1520 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya;
  5. Maharaja Husain Syah: Putra Sultan Riayat Syah II (Meureuhom Khaa), kemuian menggantikan ayahnya menjadi Sulthan Aceh;
  6. Maharaja Saidil Mukamil: Putra dari Maharaja Firman Syah, kemudian menjadi Sulthan Aceh dari 1589 sampai 1604 M. Ayah dari ibu Sultan Iskandar Muda.
  7. Maharaja  Husain Syah: Putra dari Sulthan Saidil Mukamil
  8. Maharaja Meurah Poli: Meurah Poli Negeri Keumangan dikenal sebagai Laksamana Panglima Pidie yang terkenal dalam perang Malaka (Hikayat Prang Raja Siujud).
  9. Maharaja Po Meurah: Syahir Poli, Bentara IX Mukim Keumangan yang bergelar Pang Ulee Peunaroe. Pengatur negeri Pidie;
  10. Meurah Po Itam : Bentara Kumangan bergelar Pang Ulee Peunaroe;
  11. Meurah Po Puan : Bentara keumangan bergelar Pang Ulee peunaroe;
  12. Meurah Po Thahir : Bentara Keumangan yang terkenal dalam perang Pocut Muhammad (Hikayat Pocut Muhammad) dengan Potue Djemaloy (Sultan Djamalul Alam Badrul Munir) pada tahun 1740 M. Ia mempunyai dua orang saudara: Meurah Po Doom dan Meurah Po Djoho;
  13. Meurah Po Seuman: Pang Ulee Peunaroe dengan nama asli Usman;
  14. Meurah Po Lateh: Pang Ule Peunaroe dengan nama asli Abdul Latif, terkenal dengan sebutan Keumangan Teungeut;
  15. Teuku Keumangan Yusuf: Sudah masuk masa perang Aceh dengan Belanda;
  16. Teuku Keumangan Umar: Uleebalang IX Mukim, Pidie.

Negeri-negeri dibawah Kerajaan Pidie

T.R. Suliman bin T. Sjahbudin Pantee Raja (1903)

T.R. Suliman bin T. Sjahbudin Pantee Raja (1903)

Menurut riwayat, dalam kerajaan Pidie terdapat beberapa negeri (lanschap) yang diperintah oleh Uleebalang yaitu: Mentroe Banggalang, Mentroe Garot, Bentra Ribee, Imum Peutawo Andeu, Mentroe Gampong Aree, Bentara Po Puteh Mukim VIII, Imum Lhok Kaju, Mentroe Meutareum, Mentroe Krueng Seumideun, Bentara Pineung, Bentara Gigieng, Bentara Blang Ratna Wangsa, Panglima Meugoe, Bentara Keumangan, Mentroe Adan, Bentara Seumasat Glumpang Payong, Bentara Blang Gapu (Ie Leubeu), Bentara Gampong Asan, Bentara Nyong, Bentara Putu, Bentara Alue, Keujruen Aron, Keujreun Pecalang Rimba Truseb, Bentara Cumbok, Bentara Titeu, Bentara Keumala, Keujreun Pante Raja, Keujruen Perambat Pangwa dan Keujruen Chik Meureudu. Para Uleebalang ini memerintah negerinya langsung dibawah raja atau Sultan.

Daftar Pustaka

  1. M. Zainuddin; Tarikh Aceh dan Nusantara; Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat; Cetakan kedua; Banda Aceh tahun 2012;
  2. Mohammad Said; Aceh Sepanjang Abad Jilid Pertama; P.T. Percetakan dan Penerbitan Waspada; Medan tahun 1981;
  3. Junaidi Ahmad; Pidie Negeri 34 Uleebalang; Bandar Publishing; Cetakan Pertama; Banda Aceh tahun 2020;
  4. William Marsden, F.R.S; Sejarah Sumatera; Penerbit Indoliterasi; Cetakan I; Yogyakarta tahun 2016;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  2. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  3. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  5. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  7. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  8. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  9. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  10. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  11. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  12. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  13. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  14. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  15. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  16. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  17. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  18. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  19. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  20. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  21. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  22. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  23. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  24. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  25. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  26. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  27. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  28. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  29. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  30. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  31. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  32. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  33. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  34. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  35. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  36. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  37. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  38. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  39. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  40. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  41. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  42. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  43. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  44. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  45. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  46. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  47. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  48. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  49. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  50. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  51. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  52. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  53. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  54. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  55. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  56. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  57. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  58. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  59. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE

  1. Ping balik: SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO) | Tengkuputeh

  2. Ping balik: KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI | Tengkuputeh

  3. Ping balik: HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH | Tengkuputeh

  4. Ping balik: HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS PERTAMA DI ACEH | Tengkuputeh

  5. Ping balik: BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH | Tengkuputeh

  6. Ping balik: SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH) | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.